Saturday, February 21, 2009

Yuk..... Kita berkunjung ke kota Gudeg Yogyakarta

Yogyakarta merupakan kota yang terkenal dengan ciri khas budayanya yang sangat kental, dan sampai saat ini kerajaan di Yogyakarta masih terlihat seperti layaknya sebuah kerajaan, dimana kehidupan di dalam lingkungan kerajaan atau yang biasa disebut dengan lingkungan Kraton masih menjalankan adat istiadat sebuah kerajaan. Dan hal ini akan menjadi suatu pengalaman yang sangat unik bila anda sempat berkunjung ke lingkungan Kraton Yogyakarta.

Bukan hanya keunikan Kraton yang bisa anda temui di Yogyakarta, tetapi masih banyak lagi tempat-tempat menarik dan mempunyai nilai sejarah yang sangat tinggi, misalnya anda juga bisa mengujungi candi-candi yang terdapat disana yang menurut keterangan sejarah sudah berusia ribuan tahun dan merupakan peninggalan kerajaan-kerajaan besar pada jaman dahulu. Diantara candi-candi tersebut adalah Candi Borobudur yang dibangun pada abad ke-9 oleh dinasi Syailendra. Di sana juga terdapat wisata alam yang sangat menakjubkan dengan panorama alam yang sangat indah, disana berdiri megah Gunung Merapi dengan hiasan pemandangan alam yang sangat indah di sekelilingnya. Wisata pantaipun bisa anda temui disana, Deburan ombak yang membangkitkan semangat bisa anda nikmati di Pantai Parangtritis, yang merupakan pantai yang sangat terkenal di Yogyakarta.

Ada satu hal lagi yang pasti akan membuat anda betah berlama-lama tinggal di Yogyakarta, yaitu keramahan masyarakat di sana, mereka sangat ramah dan santun kepada para pendatang, Bila anda menyempatkan diri untuk berkeliling dengan menggunakan sepeda, becak atau andong, pasti anda akan merasakan hangatnya senyuman dan sapaan yang tulus di setiap sudut kota, sehingga anda akan merasa seakan-akan berada di kampung sendiri.

Daya tarik seni budaya di kota ini sangat terasa sekali, hal ini bisa anda temu di sepanjang jalan Malioboro, yang merupakan urat nadi Yogyakarta. Disana dipenuhi dengan barang kerajinan yang beraneka ragam dan yang pasti memiliki keunikan tersendiri, selain itu disana juga anda bisa menikmati makanan yang dihidangkan oleh warung-warung lesehan, ditambah dengan hiburan dari musisi jalanan yang selalu siap untuk memuaskan telinga pengujung warung lesehan.

Yogyakata memang sebuah kota Wisata yang sangat unik dan pasti akan membuat para pelancong merasa ketagihan untuk kembali datang ke sana.


--Udah ngantuk nich…Sampapai sini dulu yach…… Nanti disambung lagi--

More Details...

Thursday, February 19, 2009

Rupiah Terhempas ke 12.075

Aksi para investor untuk membeli obligasi korporasi Amerika Serikat membuat likuditas dolar di pasar makin ketat yang membuat rupiah terpuruk hingga di atas Rp 12 ribu. Pada transaksi spot pasar uang antarbank di Jakarta, Rabu (18/2) rupiah ditutup kembali melemah 200 poin menjadi Rp 12.075
dari posisi sehari sebelumnya yang berada di level Rp 11.875 per dolar AS.
Diler valuta asing dari Bank Resona Perdania, Muhammad Fauzi Halim mengungkapkan para pelaku pasar global melihat adanya potensi keuntungan yang lebih besar dan lebih aman berinvestasi di obligasi korporasi AS yang resikonya kecil.
Hal itu lebih baik ketimbang berinvestasi di negara yang mata uangnya menawarkan imbal hasil tinggi tetapi dengan resiko yang besar pula. Investor pun lebih memilih untuk memburu obligasi korporasi AS karena harganya saat ini dianggap sangat murah.
Menurut Fauzi, dana talangan dari pemerintah AS yang tak kuncung cair, serta persyaratan yang ketat serta dianggap terlalu mahal bagi korporasi, membuat mereka memilih menjual obligasi yang dimilikinya ke pasar agar cepat mendapatkan uang dan biayanya lebih murah.
Mereka menjual obligasinya karena butuh modal agar usahanya tetap berjalan. “Diobralnya obligasi korporasi AS ini membuat likuditas dolar semakin ketat,” ujar Fauzi.
Dengan tersedotnya dolar kembali ke Amerika membuat dolar masih akan cenderung terapresiasi terhadap mata uang global. "Rupiah pun juga terkena imbasnya sehingga jatuh diatas 12 ribu," kata Fauzi, memaparkan.
Bank Indonesia sepertinya juga tidak melakukan intervensi secara ketat dan melepas dolarnya kepasar untuk menjaga rupiah di kisaran antara 11.950 hingga 12.050 per dolar.
Dengan makin memburuknya resesi ekonomi kawasan Eropa serta Asia membuat para pelaku pasar lebih percaya diri untuk memegang dolar dari pada mata uang lokal. "Ini yang membuat mata uang regional kembali terdepresiasi terhadap dolar AS," tutur dia.
Fauzi memprediksikan rupiah pada Kamis (19/2) akan ditransaksikan di kisaran antara Rp 11.900 hingga Rp 12.100 per dolar AS.


Sumber : Koran Tempo
More Details...

Sunday, February 15, 2009

Karimunjawa Surga Laut yang Tersembunyi

Kepulauan Karimunjawa, secara administratif merupakan sebuah kecamatan bagian dari Kabupaten Jepara, Jawa Tengah, terletak sekitar 45 mil arah barat laut dari kota Jepara. Luas wilayah Karimunjawa adalah 107.225 ha, sebagian besar berupa lautan (100.105 ha) sisanya 7.120 ha berupa daratan . Dengan topografinya ini Karimunjawa beriklim trapis yang dipengaruhi oleh angin laut yang bertiup sepanjang hari dengan suhu rata-rata 26° - 30° C, suhu minimum 22° C dan suhu maksimum 34°C.

Menuju ke Kepulauan ini bisa ditempuh lewat laut dengan menumpang KMC Kartini I dari Pelabuhan Tanjung Mas, Semarang. Pada setiap sabtu, jam 07.00. sementara dari Pelabuhan Kartini Jepara kapal berangkat pada hari senin jam 10.00, atau bisa pula mencarter pesawat kura-kura resort.

Kami memilih menggunakan Feri kartini I dari Pelabuhan Tanjung Mas Semarang,. Dalam kapal yang nyaman ini kami bebas menikmati udara laut dan panorama yang indah. Uadara saat itu berhembus ramah namun gelombang laut Jawa terasa keras memecah ombak, tak pelak kapal feri yang kami tumpangi terombang-ambing melawan derasnya gelombang yang menghantam, tubuhpun terguncang-guncang sambil menahan rasa tak enak di bagian kepala dan perut. Beberapa penumpang yang kondisi badannya tidak fit terlihat pucat terserang mabuk laut.

Enam jam berada di lautan terasa menjemukan. Untuk melupakan deraan rasa bosan dan rasa mabuk laut, kami mengobrol dan bersenda gurau dengan sesama penumpang sambil menikmat pemandangan laut. Lamanya perjalanan dan perasaan senasib membuat kami merasakan adanya jalinan persaudaraan baru.

Waktu terus berjalan, sampai akhirnya sebuah pulau kecil tampak jelas terpampang di depan mata kami. Pepohonan nan hijau menyejukan mata, rasa penatpun sirna menatap indahnya alam. Tak sabar rasanya ingin segera mendarat.

Kapal merapat, awak kapal menambatkan kapal di pelabuhan Karimun. Segera kami turun dan berjalan menuju ke dermaga. Dari jauh terlihat gerbang bertuliskan “Welcome to Karimun” menyambut kami.

Keinginan untuk segera mengeksplorasi keindahan bawah laut Karimunjawa terpaksa kami tahan. Rupanya perjalanan belum berakhir, kami harus naik perahu motor lagi untuk menuju penginapan di Wisma Apung. Jaraknya tidak terlalu jauh dari pulau Karimun, hanya sekitar 15 menit perjalanan kami sampai di penginapan. Wisma yang terapung ini merupakan sebuah wisma kecil diantara pulau Karimun dan Menjangan.

Wisma yang berada di atas laut ini mempunya ciri khas tersendiri, sambutan “Selamat Datang” dari ikan bluntak di akuarium laut di wisma ini seolah menghilangkan rasa penat setelah enam jam perjalanan yang melelahkan.

Hari telah sore ketika kami tiba di Wisma Apung, sehingga kami memutuskan untuk bristirahat saja sambil menikmati indahnya matahari terbenam di langit Karimun. Malamnya kami tertidur lelap, mempersiapkan kondisi fisik agar fit untuk mengeksplorasi keindahan laut esok harinya.

Pagi yang indah dan cerah. Matahari menampakan dirinya dalam rona yang menawan. Kami tak menyiakan pemandangan yang memesona itu dan mengabadikannya dalam kamera. Setelah mandi dan sarapan, perjalanan untuk bereksplorasi di Kepulauan Karimun dimulai. Kami menuju pantai Pasir Putih Tanjung Gelam dengan perahu wisata. Hanya perlu satu perjalanan untuk sampai di Tanjung Gelam ini.

Terumbu karang indah yang dikerumuni ikan-ikan karang, menjadikan petualangan yang sulit dilupakan. Kami semua begitu menikmati pemandangan bawah laut disekitar sini, cukup dengan snorkel (alat untuk melihat bawah air) saja, tanpa harus melakukan diving atau penyelaman.

Dari Tanjung Gelam, kami mulai melakukan eksplorasi disekitar Pulau Cemara Kecil yang tak kalah indah dengan Tanjung Gelam. Menjelang sore, dalam perjalanan kembali pulang ke Wisma Apung, kami melepas seekor penyu hijau di tengah laut sekitar Kepulauan Karimun.

Belum puas berenang dilaut, disekitar wisma kami masih bisa melanjutkan bersnorkel ria kembali sambil menikmati indahnya sunset.

Pagi harinya kami melanjutkan petualangan. Kali ini kami menuju Pulau Menjangan Kecil. Pemandangan pasir putih terhampar luas dengan kejernihan airnya membentuk pemandangan pasir putih terhampar luas dengan kejernihan airnya membentuk pemandangan yang menakjubkan. Meskipun sepi, pulau ini ada penghuninya. Di pulau ini terdapat banyak pohon kelapa dengan buahnya yang melimpah. Kami sempat menikmati segarnya buah kelapa yang dipetik oleh penduduk setempat.

Dari Menjangan Kecil, kami bertolak menuju pulau Menjangan Besar. Dipulau ini terdapat tempat penangkaran hiu. Hiu-hiu yang masih bayi tersebut dibiarkan di sebuah tempat khusus. Hiu ini tidak berbahaya sehingga kami diperbolehkan snorkeling bersama bayi-bayi hiu ini Berenang bersama hiu merupakan pengalaman yang langka dan mendebarkan bagi kami.

Hari ketiga diKepulauan Karimun ini, kami berkunjung ke Pulau Karimun. Kami menyaksikan dari dekat kehidupan penduduk di Karimun yang berpenduduk kurang lebih sekitar 2.000 jiwa. Dari 24 pulau di kepulauan ini, hanya 7 pulau saja yang dihuni. Mayoritas penduduk Kepulauan Karimunjawa adalah suku Jawa dan sebagian lagi suku Bugis., Makasar dan Madura. Umumnya, mata pencaharian mereka adalah nelayan.

Menjelang siang, KMP Muria telah datangi artinya, kami harus melakukan pelayaran balik, mengarungi lagi Laut Jawa Menuju Pelabuhan Kartini, Jepar. Perjalanan kali ini kami tempuh dua jam lebih singkat daripada waktu berangkat.

Mungkin karena sudah terbiasa berada dilautan, perjalanan pulang ini terasa lebih menyenangkan. Meskipun kapal terombang-ambing dilautan, tubuh rupanya sudah beradaptasi. Alhasil, tak banyak yang mabuk laut kali ini. Perjalan ini menyisakan rasa persaudaraan dan kerinduan untuk suatu saat akan berkunjung kembali ke pulau yang menyimpan pesona tersembunyi tersebut.


Dari Majalah PARAS No. 37/Tahun IV

More Details...